Mahasiswa USU Berpartisipasi dalam Program Kemanusiaan di Malaysia
Dipublish Pada
06 Desember 2024
Dipublish Oleh
Fenny Julistine Tarigan
Empat mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) berpartisipasi dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang bertujuan memberikan pendidikan dan pengayaan budaya bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia
Empat mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) berpartisipasi dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang bertujuan memberikan pendidikan dan pengayaan budaya bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia. Mahasiswa tersebut terlibat dalam berbagai proyek kemanusiaan, termasuk memberikan akses pendidikan berkualitas, pengayaan budaya, dan literasi teknologi bagi anak-anak Indonesia tanpa kewarganegaraan di Malaysia. Partisipasi mereka mencerminkan dedikasi terhadap isu-isu kemanusiaan dan semangat untuk memberdayakan anak-anak yang kurang beruntung. Program MBKM ini bertujuan mendorong tanggung jawab sosial dan keterlibatan komunitas di kalangan mahasiswa, serta mencerminkan visi program dalam mengubah institusi pendidikan tinggi menjadi kampus merdeka yang berorientasi pada tanggung jawab sosial.
Arisando Silitonga dan Julkifli Simanjuntak dari Departemen Etnomusikologi ikut serta dalam Proyek Kemanusiaan di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan tujuan memberikan akses pendidikan berkualitas dan pengayaan budaya bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia. Dalam proyek ini, mereka mengikuti pelatihan intensif dalam Manajemen Acara. Mereka ditugaskan di pusat komunitas, di mana mereka tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menyediakan peluang pembelajaran penting. Mereka mengenalkan alat musik tradisional dan tarian, seperti alat musik Batak Toba, sekaligus mempromosikan warisan budaya Sumatera Utara, khususnya budaya suku Batak Toba. Pengalaman ini menunjukkan potensi besar dalam pertukaran budaya dan kekuatan transformasi musik sebagai sarana harapan dan inspirasi untuk menjembatani komunitas melalui bahasa universal musik.
Selain itu, Kimsang Silalahi, yang juga berpartisipasi dalam program ini, mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari inisiatif penting ini. Ia menyatakan, “Pendidikan adalah hak mendasar yang seharusnya dimiliki setiap anak. Sangat menyedihkan melihat perjuangan yang dihadapi oleh anak-anak Indonesia tanpa kewarganegaraan di Malaysia. Melalui inisiatif Education for All yang digagas MRPTNI, kami berupaya memberikan dampak nyata dalam kehidupan anak-anak ini dan memberikan mereka kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.” Partisipasi Kimsang dalam program ini sejalan dengan dedikasinya pada isu-isu kemanusiaan dan keinginannya untuk meningkatkan literasi teknologi di kalangan komunitas tersebut.
Serupa dengan itu, Muhammad Naufal Zain, seorang mahasiswa Ilmu Keperawatan yang berdedikasi, menjalankan tugasnya di Sanggar Bimbingan Subang Mewah dan Srimuda. Proyek yang dilakukan Naufal mencerminkan nilai-nilai program dengan menyediakan sumber daya pendidikan, pelatihan keterampilan dasar, serta kegiatan pembentukan karakter bagi anak-anak kurang mampu. Naufal menyatakan, “Potensi yang dimiliki setiap anak menginspirasi saya, dan saya berkomitmen memberikan mereka alat yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan.” Melalui upaya kolaboratif, ia percaya dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan anak-anak tersebut dan memberdayakan mereka untuk meraih impian mereka.
Program kemanusiaan ini telah mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi pengalaman belajar individu, mendalami berbagai bidang pengetahuan, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Proyek ini mencerminkan nilai-nilai pendidikan dengan menyediakan sumber daya pendidikan, pelatihan keterampilan dasar, dan kegiatan pembentukan karakter. Program MBKM bertujuan untuk menanamkan rasa tanggung jawab sosial dan keterlibatan komunitas pada mahasiswa.
Dengan dukungan berbagai institusi, termasuk Universitas Sumatera Utara, Kedutaan Besar Republik Indonesia, dan INTI International University, mahasiswa USU berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung di mana anak-anak kurang mampu dapat berkembang secara intelektual dan emosional.