home icon
search icon
menu icon

Dari Orang Asing Menjadi Sahabat Seumur Hidup: Membangun Koneksi Emosional Melalui Beasiswa IISMA di University of Waterloo

Dipublish Pada

06 Desember 2024

Dipublish Oleh

Fenny Julistine Tarigan

Berbagai acara budaya Indonesia yang diselenggarakan oleh para penerima beasiswa memiliki peran besar dalam mempererat hubungan mereka

Di kota kecil yang tenang, Waterloo, Chloe Jane Pagett, seorang mahasiswa arsitektur dari Universitas Sumatera Utara, menghabiskan hampir empat bulan dalam perjalanan yang mengubah hidupnya. Ia mempelajari budaya baru dan menjelajahi kota asing ini berkat beasiswa prestisius IISMA yang diberikan oleh pemerintah Indonesia. Namun, di balik pencapaiannya secara akademik, Chloe menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga—sebuah lingkaran persahabatan seumur hidup.

 

Sebanyak empat belas mahasiswa lainnya juga menerima beasiswa yang sama dan tinggal di asrama yang sama dengan Chloe. Meskipun mereka berasal dari negara yang sama, latar belakang, suku, dan cerita mereka beragam, masing-masing membawa perspektif unik. Tinggal bersama dalam satu asrama membuat Chloe bertemu teman-teman barunya setiap hari, berjalan bersama ke kelas, dan saling mendukung.

 

Namun, bukan hanya kondisi tempat tinggal yang membantu membangun persahabatan ini. Berbagai acara budaya Indonesia yang diselenggarakan oleh para penerima beasiswa memiliki peran besar dalam mempererat hubungan mereka. Mulai dari acara kepahlawanan bertajuk 'Kesatria: The Lost Heritage' hingga kegiatan donasi makanan sambil mengenakan pakaian tradisional Indonesia, Batik.

 

 

Acara 'Kesatria' berhasil menjadi kesuksesan berkat kerja sama tim para penerima beasiswa dan kreativitas mereka dalam menghasilkan ide-ide luar biasa. Chloe, yang bertanggung jawab atas stan foto, mendokumentasikan senyum para pengunjung. Sementara itu, dalam acara Batik Day, kelima belas penerima beasiswa pergi ke kota tetangga untuk mendonasikan bahan makanan ke sebuah organisasi nirlaba bernama 'House of Friendship.' Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan pentingnya kerja sama tim dan kesediaan untuk mendengarkan ide satu sama lain. Chloe juga belajar mengenali kekuatan dan kelemahan teman-temannya, yang membuatnya mampu membantu mereka di masa depan.

 

Selama musim dingin Kanada yang keras, kehangatan pertemuan di dalam ruangan menjadi hal yang biasa. Mereka berbincang tentang berbagai topik, mulai dari sejarah hingga mimpi. Dengan banyak waktu yang dihabiskan bersama dan saling mengenal lebih dalam, Chloe merasakan kebersamaan yang seperti keluarga dengan teman-teman barunya, memberikan rasa "pulang" meskipun jauh dari rumah.

 

Chloe mengenang hari-hari yang ia habiskan di sana. "Saya selalu berpikir, bukan tempatnya yang membuatnya spesial, tetapi orang-orang yang bersama kita yang membuatnya istimewa," katanya sambil tersenyum. "Selamanya, saya akan menyimpan kenangan ini dalam ingatan saya dan teman-teman saya di hati saya." Teman-teman yang dulu adalah orang asing kini menjadi sahabat dengan ikatan yang tak terputus.

Berita